Jumat, 17 April 2015

Artikel 2 Terapi humanistik eksistensial

           Terapi Humanistic Eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Tetapi teori ini juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang “di sini dan kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga persamaan antara terapi psikodinamik dan terapi humanistic eksistensial yakni, keduanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan keduanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran pasien.
            Terapi eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubungan dengan klien. Kualitas dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Pada terapi humanistic-eksistensial tidak ada teknik khusus.
            Pendekatan eksistensial tidak seperti kebanyakan terapi lainnya yang hanya berorientasi pada tekniknya saja. Pendekatan ini mengurangi tekanan pada tekniknya dan prioritas diberikan untuk memahami dunia atau kehidupan klien. Karena menurut pendekatan ini apabila mendekati manusia hanya dalam hal teknik sama dengan memanipulasi mereka dan hal tersebut bertentangan dengan eksistensi itu sendiri.
            Tujuan terapi eksistensial adalah:
  1. Menyajikan kondisis-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan klien.
  2. Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi.
  3. Membantu klien menemukan dan menggunkan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri.
  4. Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.
Teknik –teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu :
1.      Penerimaan
2.      Rasa hormat
3.      Memahami
4.      Menentramkan
5.      Memberi dorongan
6.      Pertanyaan terbatas
7.      Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8.      Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut merasakan apa yang dirasakan klien
9.      Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
Refrensi :
1.      Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta : Kansius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar